Langkah Pengurus Besar Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PB PERGATSI) untuk menaikkan pamor Gateball di kancah internasional semakin terbuka lebar setelah Indonesia resmi menjadi anggota World Gateball Union (WGU) dan Indonesia merupakan keanggotaan aktif di Asia Pacific Gateball Union (APGU).
Sebelumnya, pada bulan Januari 2025 Kontingen Indonesia menjadi Juara Umum The 5th Thailand Open Master Games 2025 di Bangkok, Thailand dengan perolehan 2 piala tetap dan 4 medali yaitu 2 medali emas, 1 medali perak dan 1 medali perunggu. Saat itu, Kontingen Indonesia terdiri dari atlet Pergatsi Jawa Barat dan atlet Pergatsi DKI Jakarta yang tergabung dalam tim RGB Indonesia.
Aulia Pradipta atau yang biasa disapa dengan panggilan Yoli mengatakan, meskipun di The 3rd Asia-Pacific Gateball Open 2025 di Chiayi, Taiwan, tidak meraih juara, bisa berpartisipasi merupakan suatu kebanggaan karena bisa bersahabat dan berbagi pengalaman tentang gateball dengan negara lain.
“Di Taiwan, Kontingen Indonesia diwakili dari Pergatsi Jawa Barat dan Pergatsi DKI Jakarta. Kami menurunkan 8 atlet (Dixie, Cinta, Yoli, Reni, Sonny, Lina, Achep, Rosa) dan 1 manajer (Mey) sehingga kami bisa bermain 1 tim (8 atlet) di beregu bebas dan untuk tripel bebas menjadi 2 tim. Dixie, Cinta, Yoli dan Reni di Tim Triple A. Untuk Tim Triple B Sonny, Achep, Rosa dan Linna GB8” kata Yoli, Minggu (2/11/2025).
Yoli menambahkan, pertandingan di The 3rd Asia-Pacific Gateball Open 2025 ini berlangsung selama tiga hari, yaitu mulai dari 31 Oktober hingga 2 November 2025. Adapun kategori nomor yang dipertandingkan ada dua, yaitu Beregu Bebas dan Triple Bebas. Hari pertama dimulai dengan babak penyisihan beregu bebas. Hari kedua masih babak penyisihan beregu bebas dilanjutkan sampai final beregu bebas kemudian babak penyisihan tripel bebas, lalu di hari ketiga masih berlanjut babak penyisihan tripel bebas sampai final tripel bebas.
“Dalam pertandingan itu ada 11 negara yang bertanding antara lain Taiwan, Hong Kong, Makau, Jepang, Korea, India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, dan Indonesia. Ada 88 tim yang ikut bertanding di Beregu Bebas dan 128 tim Triple Bebas dengan memakai 16 lapangan. Namun, kami hanya bisa sampai babak penyisihan saja karena kalah selisih poin atau hanya sampai di runner-up pool,” ujarnya.
Dia menjelaskan, bahwa pembagian pul di Indonesia berbeda dengan pembagian grup di Taiwan. Di Taiwan jumlah tim banyak namun karena keterbatasan waktu hanya 3 hari, sehingga yang diambil untuk masuk ke sistem gugur hanya yang juara grup atau juara pul saja, sedangkan di Indonesia yang bisa masuk babak berikutnya juara pul termasuk dengan runner-up.
Raden Rahayu Handayani atau yang biasa disapa dengan panggilan Reni menambahkan, dalam Turnamen Gateball di Taiwan ini tim-tim yang bertanding hanya sampai di babak penyisihan dan tidak masuk babak berikutnya berkesempatan untuk mengikuti friendly match atau pertandingan persahabatan mempergunakan lapangan yang sedang tidak dipakai. Yang menarik waktu itu ada salah satu pelatih nasional dari Taipei yang berprofesi sebagai polisi perempuan di Taiwan yang pernah dikalahkan oleh Cinta (atlet Jawa Barat) dalam kategori Double di 2nd Sari Ater Open Tournament 2024 di Sari Ater, Subang, Jawa Barat. Nah, saat dipertemukan lagi di Taiwan dalam friendly match kategori Triple ternyata tetap Cinta yang menang lagi,” ujar Reni.
“Mereka (APGU) sangat aktif untuk membuat turnamen-turnamen dan selalu mengundang negara lain untuk berpartisipasi, seperti dalam waktu dekat ini ada beberapa pertandingan bulan November 2025 di Makau, Hongkong, dan India, serta Januari 2026 ada Turnamen di Thailand,” tutup Yoli.
(PAH/ROY/SAL)